Pedagang Kaki Lima

Pedagang kaki lima atau yang sering disebut PKL merupakan sebuah komunitas yang kebanyakan berjualan dengan memanfaatkan area pinggir jalan raya untuk mengais rezeki dengan menggelar dagangannya atau gerobaknya di pinggir-pinggir perlintasan jalan raya. Bila melihat sejarah, Pedagang Kaki Lima sudah ada sejak masa penjajahan Kolonial Belanda. Pada masa penjajahan colonial, peraturan pemerintahan waktu itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun hendaknya menyediakan sarana untuk para pedestrian atau pejalan kaki yang sekarang ini disebut dengan trotoar. Lebar ruas untuk sarana bagi para pejalan kaki atau trotoar ini adalah 5 kaki atau 5 feet (feet = satuan panjang yang umum digunakan di Britania Raya dan Amerika Serikat). 1 kaki adalah sekitar sepertiga meter atau tepatnya 0,3048 m. Maka 5 feet atau 5 kaki adalah sekitar satu setengah meter. Selain itu juga pemerintahan pada waktu itu menghimbau agar sebelah luar dari trotoar diberi ruang yang agak lebar atau agak jauh dari pemukiman penduduk untuk dijadikan taman sebagai penghijauan dan resapan air.
Dengan adanya tempat atau ruang yang agak lebar itu kemudian para pedagang mulai banyak menempatkan gerobaknya untuk sekedar beristirahat sambil menunggu adanya para pembeli yang membeli dagangannya. Seiring perjalanan waktu banyak pedagang yang memanfaatkan lokasi tersebut sebagai tempat untuk berjualan sehingga mengundang para pejalan kaki yang kebetulan lewat untuk membeli makanan, minuman, sekaligus beristirahat. Berawal dari situ maka Pemerintahan Kolonial Belanda menyebut mereka sebagai Pedagang Lima Kaki, buah pikiran dari pedagang yang berjualan di area pinggir perlintasan para pejalan kaki atau trotoar yang mempunyai lebar Lima Kaki.
Seiring perjalanan waktu para pedagang lima kaki ini tetap ada hingga sekarang, namun ironisnya para pedagang ini telah diangggap mengganggu para pengguna jalan karena para pedagang telah memakan ruas jalan dalam menggelar dagangannya. Namun bila kita menengok kembali pada masa penjajahan belanda dahulu, antara ruas jalan raya-trotoar dengan jarak dari pemukiman selalu memberikan ruang yang agak lebar sebagai taman maupun untuk resapan air. Hal ini bisa kita lihat pada wilayah-wilayah yang masih bertahan dan terawat sejak pemerintahan kolonial hingga sekarang seperti di daerah Malang terutama di daerah Jalan Besar Ijen, dan lain sebagainya.
Hal ini sangat berbeda dengan sekarang, dimana antara trotoar dengan pemukiman tidak ada jarak sama sekali, pembuatan taman-taman yang ada di sisi pinggir jalan terkesan seadanya sehingga tidak mampu untuk meresap air apa bila hujan. Ini fakta bukan fenomena, ini kenyataan dan bukan rekaan. Lantas tidak sepenuhnya kesalahan itu teralamatkan pada Pedagang Kaki Lima (PKL) yang notabone memang dirasakan sangat mengganggu para pengguna jalan. Sungguh ironis memang, disatu sisi mereka mencari nafkah, satu sisi mereka juga mengganggu kenyamanan para pengguna jalan. Dalam hal ini pemerintah harus lebih jeli dalam mengambil tindakan dan juga menegakkan peraturan. 
Lapangan pekerjaan yang sulit juga mendukung maraknya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang merupakan alih profesi akibat PHK dan lain sebagainya. Ketika pemerintah dan sektor informan tak mampu sediakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja, sektor informal jadi katup pengaman. Tahun 98, PKL jadi penampungan limpahan jutaan buruh korban PHK saat perusahaan-perusahaan besar kolaps dan meniggalkan hutang besar. PKL menampung tenaga-tenaga kerja dan membuat pemerintah tidak harus ketakutan dengan dasyhatnya ledakan tenaga kerja. Hari ini jumlah PKL 25 juta orang. 
Seperti kata Wiji Thukul, "kami PKL tidak tergantung kepada departemen tenaga kerja, semakin hari semakin nyata nasib hanya di tangan kami, tidak diubah oleh siapapun. Dan kami tidak pernah menyumpahi rahim ibuku lagi sebab pasti malam tidak akan berubah menjadi pagi hanya dengan memaki-maki. Waktu yang diisi keluh akan berisi keluh, waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan serdadu-serdadu kebijaksanaan, biar perang meletus kapan saja itu bukan apa-apa buat kami. Masalah nomor 1 adalah hari ini, jangan mati sebelum dimampus takdir, sebelum malam mengucap selamat malam, sebelum kubur mengucap selamat datang, kami mengucap kepada hidup yang jelata, pedagang kaki lima merdeka. Kami kecil, kami 25 juta orang, tapi kami memerdekakan pedagang kaki lima, daripada besar tapi koruptif, lebih baik kecil tapi arif dan tidak manipulatif.

Penganten baru betah di kasur
Seminggu kemudian minta cerai
PKL jangan sembarang digusur
Carikan dulu tempat yang sesuai

Komentar

Postingan Populer